Home > Uncategorized > Ingin Hidup Bahagia? Jadilah Mubaligh

Ingin Hidup Bahagia? Jadilah Mubaligh

Mubaligh

Mubaligh atau mubalighot adalah seorang penyampai ilmu. Seorang penyampai ilmu tentu saja harus mempunyai kemampuan, mengerti tentang ilmu dan berani serta mampu menyampaikan ilmunya sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bersumber dari Quran dan Hadits. Sabda rasulullah sallallahu alaihi wassalam dalam alhadist.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة
رواه البخارى

Artinya :
Sampaikanlah ilmu dariku walaupun satu ayat.

Entah kenapa tiba-tiba Rizal mengisahkan hidupnya ketika menyampaikan makalah tentang “Kefadholan Menjadi Mubaligh dan Mubalighot.”

Rizal menyampaian makalah Cinta Alam Indonesia (CAI 2017) pada pengajian di PC LDII Patrang (31/7). Kenangannya akan masa-masa sulit dulu muncul begitu saja. Rizal yang sebelumnya tidak begitu mendalami agama Islam sempat bercita-cita ingin menjadi orang kaya yang sukses. Dalam pencarian cita-citanya tersebut justru dia dapatkan yang lebih baik, yaitu hidayah menetapi Agama Islam. Hidayah itu datang bersama penyampai (mubaligh) dari LDII.

Perjalanan Hidup Rizal

Kisah nyata ini mungkin dapat menginspirasi kita. Sebut saja namanya Rizal. Rizal berasal dari sebuah desa di pinggiran Solo.

Hidup di desa dalam lingkungan yang kurang beruntung bagi Rizal adalah sebuah penderitaan. Sadar akan kekurangannya dalam menerima pelajaran, terlebih melihat kemampuan orang tua untuk kelanjutan sekolah tidak mungkin. Rizal memutuskan untuk berhenti sekolah dan bertekad untuk merantau dan mencari harta yang banyak. Dia mengininkan mencari uang yang banyak tanpa harus sekolah. Dia ingin hidupnya kelak menjadi orang yang kaya dan bahagia. Dengan bermodal nekat (bonek) dengan uang seadanya dia mencari sahabatnya pergi merantau ke Kalimantan.

Merantau ke Kalimantan

Kenekatan Rizal merantau ke Kalimantan dengan perjalanan kapal laut terombang-ambing selama satu minggu dari pelabuhan Semarang. Bus yang dia naiki dalam perjalanan sempat mengalami kecelakaan di hutan Kalimantan. Seandainya dia mati di hutan tersebut, niscaya orang tua saya tidak akan tahu, kata Rizal. Sesampai di Kalimantan, Rizal berusaha keras untuk mencari kerja ya menjadi kuli bangunan. Tidak begitu lama baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah menjadi kepercayaan bagi pengusaha di Kalimantan bahwa orang yang berasal dari Solo adalah orang-orang yang tekun dan giat bekerja. Menjadi kuli bangunan pada tahun 1981, Rizal mendapat bayaran 6000 rupiah. Nilai yang cukup besar bagi seorang yang tidak lulus SD saat itu, kata Rizal.

Di tempatnya menginap, Rizal mendapatkan cerita temannya bahwa ada seorang penjual jamu yang berasal dari Solo adalah jamaah LDII. Rizal tidak begitu mengindahkan cerita tersebut. Dia lebih fokus untuk mencari jalan bagaimana lebih banyak mendapatkan uang. Dan ketika temannya cerita tentang Malaysia dan Batam, Rizal tertarik untuk pergi kesana.

Merantau ke Batam

Tekad Rizal untuk menjadi orang kaya sangat menggebu dan dengan modal yang dia dapat dari bekerja di Kalimantan, dia pergi menuju Batam untuk bertemu teman sekampungnya. Tanpa pengetahuan yang jelas, dengan modal nekat dia pergi naik bus menuju Medan. Kenapa ke Medan? itu juga yang menjadi tanda tanya Rizal. Padahal seharusnya saya harus pergi ke Tanjung Priuk atau Surabaya baru naik kapal laut menuju Riau. Dengan modal hasil kerjanya, Rizal terus bertanya dan melanjutkan perjalanan untuk menuju Riau.

Bertemu Mubaligh LDII

Modal yang semakin menipis memacu Rizal untuk segera bekerja. Dengan berjualan mie ayam, Rizal berupaya untuk mengumpulkan uang dan mewujudkan cita-citanya menjadi orang kaya. Di tempatnya menginap itulah Rizal bertemu dengan temannya yang seorang mubaligh LDII. Rizal dikenalkan dengan pengajian LDII dan mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya menjadi muslim yang taat. Rizal merasa bahwa keyakinannya untuk menjadi orang kaya yang sukses tanpa pengetahuan agama Islam yang benar semua itu tidak ada artinya. Bahkan apa yang selama ini dia kejar belum ada hasil dan justru membuat hidupnya tak berguna.

Dengan bimbingan dan pengetahuan yang dia dapatkan dari pengajian LDII itu, pada akhirnya Rizal memutuskan kembal untuk mondok. Rizal ingin memperdalam ilmu agama. Rizal justru terpacu dengan nasehat Mubalih bahwa kalau kita mempersungguh dan menolong agama Allah, maka Allah akan menolong hambanya dan memudahkan jalannya menuju surga. Cantolannya kalau kita beli sapi maka akan diberi tampar, kalau kita mempersungguh agama Allah, maka Allah akan memberikan dunianya.

Mempersungguh Menjadi Mubaligh

Walaupun beragama Islam, Rizal yang belum banyak mengenal agama itu akhirnya mondok di pesantren Wali Barokah Kediri. Saya sempat gagal tiga kali dalam tes Mubaligh dan memutuskan untuk bekerja kembali, kata Rizal. Alhmadulillah berkat ketekunan dan tes kembali akhirnya saya lulus dan tugas ke PC LDII Patrang-Jember, lanjut Rizal.

Rizal sempat terkenang kembali saat dulu dirinya diajak Kyai Rukyadi ke Jember. Kyai Rukyadi kemarin (30/7) telah dipanggil oleh Allah, seraya berdoa semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah dan ditempatkan di surga. Amin

Dengan mempersungguhnya dalam urusan ibadah kepada Allah, Rizal menjadi seorang mubaligh. Dengan ijin dan pertolongan dari Allah, alhamdulillah saya tidak menyangka dapat memiliki mobil dan membangun rumah. Semua itu adalah janji Allah yang sangat jelas kepada hambanya. Maka saya mengajak kepada semuanya untuk mempersungguh dalam urusan ibadah kepada Allah.

Bila kita mempersungguh dalam ibadah kepada Allah maka yakinlah Allah pasti akan menolong kita.

Baca Juga:

Ayo Menghafal Qur’an

Kami Percaya Ulama

Jambore LDII Jatim

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*